Kp. kebon Duren Jl. Ciliwung No. 61 RT 001 RW 001 Kel. Kalimulya Kec. Cilodong Kota Depok 16413 Jawa Barat - Indonesia product.support@polymedikal.com (021)-87911526 / 87917166
  • November 26, 2020

Bosan! Apa yang Harus Dilakukan?

Perlu diakui, kebosanan saat ini tengah merayapi sebagian besar dari kita memasuki bulan kesekian sejak pandemi muncul di awal tahun. Walaupun kita tahu apa yang ingin dilakukan, rasa bosan tetap menghalangi kita dari melakukan hal tersebut. Jika ditelisik, ternyata kebosanan dapat menandakan masalah yang lebih mendalam dan membutuhkan penanganan yang lebih serius. 


Makan adalah respon umum dalam mengatasi kebosanan dan rasa gelisah. Kebosanan dapat menjadi pemicu makan berlebihan. Peningkatan berat badan yang dialami sebagian orang bisa jadi berhubungan dengan pandemi karena kebosanan yang dialami selama kebijakan isolasi. Selain makan berlebih,  konsumsi alkohol dan nikotin juga meningkat. Kebosanan menjadi salah satu faktor orang merokok, bahkan hampir setinggi peringkat faktor lain seperti stres. Kecenderungan merasa bosan tidak selalu normal, bisa jadi kecenderungan tersebut merupakan gejala dari masalah emosional, perilaku, atau neurologis yang tidak terlihat dan bukan disebabkan oleh pandemi. Meski begitu, kondisi kebosanan diperburuk dengan pandemi dan dapat berdampak buruk pada kesehatan, sehingga mungkin perlu adanya campur tangan terapi. Sebelum itu, bagaimana hal ini bisa terjadi?


Selama masa kebijakan isolasi, kebosanan dapat terjadi dari dua sudut. Pertama, kebosanan yang terjadi karena pilihan kita terbatas, ada aktivitas yang tidak dapat kita lakukan selama kebijakan isolasi berjalan. Aktivitas yang dapat dilakukan adalah aktivitas dalam ruangan dengan menjaga jarak sosial. Kedua, karena rutinitas menjadi kacau sejak kebijakan isolasi, kita tidak memiliki batasan akan apa yang harus dilakukan dan kapan. Tanpa adanya rutinitas, kita tidak yakin mana aktivitas yang harus dilakukan. Kita tahu apa yang ingin kita lakukan. Kita hanya tidak ingin melakukannya saat ini, karenanya kita merasa bosan. Kebosanan muncul saat kita tidak punya motivasi untuk melakukan apa yang bisa dilakukan. Kebosanan membuat kita merasa terjebak dan tidak dapat menemukan hal yang akan memuaskan untuk dilakukan. Keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermakna, atau lebih tepatnya keinginan melakukan sesuatu dengan efektif. Kita ingin percaya bahwa setiap tindakan kita penting dan bermakna, dan kehidupan yang kita jalani memiliki tujuan. 


Saat dilanda kebosanan, kita merasa tidak ada yang hal bermakna yang bisa dilakukan. Selain menghilangkan minat akan aktivitas pada umumnya, kebosanan juga dapat menggoyahkan kepatuhan kita terhadap kebijakan saat pandemi. Contohnya saat wabah SARS, kebijakan isolasi tidak hanya membuat orang merasa bosan, namun juga menjadi alasan melanggarnya karena kebosanan tersebut. Bukannya tidak merasa sadar akan keseriusan kondisi yang terjadi, hanya saja keinginan yang terpendam sangat kuat, dan kebosanan rasanya sangat tidak enak, sehingga mendorong orang untuk melanggar aturan. Bagi orang yang lebih sibuk, terutama pekerja yang juga mengasuh anak, atau tenaga medis, mungkin saja tidak merasa sebosan orang yang tidak memiliki tanggung jawab tersebut. Namun, pilihan mereka untuk menghibur diri tetap terbatas, seperti halnya semua orang. Bahkan orang yang sangat sibuk pun bisa merasa jenuh. Artinya, orang yang bosan dengan kebijakan jaga jarak merasa muak dengan aktivitas yang terbatas dan hari-hari yang monoton, dan memutuskan untuk membebaskan diri walau harus melanggar beberapa aturan. 


Merasa bosan itu wajar dan tidak bisa disalahkan, yang jadi masalah adalah bagaimana kita menanggapinya. Bahkan sebelum pandemi, penelitian menunjukkan bahwa orang yang mudah bosan biasanya melarikan diri dengan menyalahgunakan alkohol dan narkoba, atau berjudi, atau obsesif dengan ponsel pintarnya. Ketiga respon tersebut dapat menghilangkan sebentar rasa tidak nyaman karena bosan, padahal kebosanan tidak bisa benar-benar hilang dengan cara itu. Kebosanan adalah sinyal peringatan yang harus kita respon dengan lebih baik. Saat kita melakukan aktivitas secara pasif, hanya untuk mengisi waktu, sebenarnya kita sudah gagal merespon kebosanan dengan baik. Kebosanan adalah pendorong kita untuk melakukan aktivitas yang dapat memanfaatkan keterampilan dan bakat kita. Untuk menangani kebosanan, dianjurkan untuk melatih agensi (motivasi). Bisa dibilang, agensi adalah kapasitas kita membimbing tindakan, membuat pilihan, dan menentukan hidup kita sendiri.


Kita bukan objek pasif yang bisa menghilangkan kebosanan hanya dengan hiburan, hanya menikmati tanpa turut andil. Kebosanan tersebut hanya menghilang sebentar dan akan muncul kembali di lain waktu. Kita butuh kegiatan milik kita sendiri, di mana kita mencurahkan gairah, ekspresi, ketertarikan, dan kreativitas dalam melakukannya.  Dari kebosanan ini, kita dapat belajar memahami dan menyadari hal apa yang paling bermakna bagi kita, motivasi kita dalam menjalani hidup, yang mana adalah dasar dari menjadi manusia.


Sumber:

Boredom: More Than a Side Effect of the Pandemic

Learning From Pandemic Boredom

Boredom is rampant during the pandemic. Listen to it.